[FF] Flow -Chapter 3

Flow poster

Flow poster

Title: Flow – Chapter 3

Genre : Romance, School’s Life, Fantasy

Pairings: BaekYoon (Baekhyun & Yoona)

Cast:

– Im YoonA ‘SNSD’ as Im YoonA

– Byun Baekhyun ‘EXO’ as Byun Baekhyun

– Park Chanyeol ‘EXO’ as Park Chanyeol

Lenght: Chaptered

OST:

– Taeyeon SNSD – Set Me Free

Note:

I dunno what to say, just give me a feedback. Like a comment. Please😀 ;-(

See you in next ff!

Still don’t forget to leave a comment ..

Happy Reading!! ^^

~~~~~~oOo~~~~~

 

~~ Flow Chapter 3 ~~

 

Author p.o.v

Segala sesuatu konflik dimulai dari merebaknya sebuah permasalahan kecil.

Sebuah permasalahan kecil, dimulai dari perasaan gundah didadamu…

Dan perasaan gundah itu berawal dari apa? Apakah dari kekecewaanmu? Ataukah itu merupakan refleksi hati mu yang telah patah?

Lalu, apakah yang akan engkau lakukan?

 

 

   Byun Baekhyun mendongak menatap langit biru. Kini ia berada tepat diatap bangunan dimana terjadi pemandangan yang tak mengenakkan.

Ia kembali berdiri untuk yang kesekian kalinya sekedar untuk memantapkan hati dan memberanikan diri, setelah kedua bolamatanya mendapati sosok sahabat karibnya, Park Chanyeol, merelakan dirinya dipukuli oleh anak-anak yang bahkan lebih lemah darinya.

Hati nuraninya tak bisa menerima pemandangan ini. Bagaimana bisa? Bagaimana orang setangguh Chanyeol diperdaya sampai sebegitu parahnya?

 

Baekhyun mendecih. Ia merutuki sikapnya yang seperti seorang pengecut. Dia bagai seekor binatang yang takut akan bayangannya sendiri. Ia terlalu takut berdiri tanpa bayangan orang lain disisinya.

Cih!

Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang selemah dia? Bahkan sampai seorang Park Chanyeol, tak berkutik melawan mereka.

 

Chanyeol memang menyadari kehadirannya, tetapi lelaki itu mengirimkan telepati keotaknya menyuruh agar tak ikut campur. Salah satu dari preman-preman sekolah itu mempunyai kemampuan mind-controlling dan itu merupakan salah satu kelemahan Chanyeol,

   “Bagaimana bisa aku tak ikut campur, dasar sialan.”ia berbisik seorang diri.

Baekhyun mengayunkan kedua kakinya. Dulu ia pernah bergabung dalam klub taekwondo, setidaknya kakinya masih bisa mengayun dengan kuat.

Ia mungkin tak kuat secara khusus, mungkin saja ia bisa mengandalkan kekuatan fisiknya, walaupun ia tak yakin dengan kekuatannya sendiri .

 

Ia menghitung jumlah musuhnya, lima, tidak, ada enam. Tikus, rakun, kuda, ular, kambing. Salah satu diantaranya adalah pengendali pikiran.

Dialah musuh utamanya. Dan hewan pendampingnya..burung hantu.

Baekhyun menelan ludah.

Bagaimana caranya? Bagaimana cara mengalahkan seekor burung hantu yang bahkan tak mau repot berada digaris depan ketika bertempur?

Caranya. Bagaimana caranya?

 

Cara mengalahkan seorang pengecut…adalah menusuknya dari belakang!

 

Bukk

Tepat sasaran. Baekhyun tersenyum puas saat batu yang ia lemparkan tepat mengenai kepala si burung hantu. Darah langsung mengucur deras dari kepala korbannya itu,

   “Dasar pengecut!”sosok laki-laki berambut merah yang mempunyai hewan pendamping burung hantu itu meneriakinya keras. Hanya dalam sekejab mata semua sorot mata tertuju padanya.

Baekhyun bergerak cepat. Dia meloncat cepat kearah mereka, dan mendaratkan satu tendangan keras tepat di wajah si rambut merah. Kepercayaan diri kini telah bangkit seutuhnya,

 

 

   “Ho.. Jung Se Min”Baekhyun mengibar-ngibarkan bed nama orang yang baru ia pukul itu tepat dimukanya. Dengan sengaja, gerakannya berhenti tepat didepan Chanyeol, memberi kesempatan bagi pemuda itu untuk segera bangkit.

   “Cepat bangkit dan hajar mereka”bisiknya sepelan mungkin. Park Chanyeol mengangguk dan berusaha berdiri dengan susah payah.

Namun lututnya sepertinya terluka parah. Terlihat darah merah mewarnai celana putih yang ia kenakan. “Sial..”

   “Ini gawat..” Pandangan matanya menelusuri seluruh luka-luka yang ada di tubuh Chanyeol. Parah. Ini akan memakan waktu lama, bahkan mungkin tak ada waktu lagi untuk melakukan pengobatan. Chanyeol bukan tipe pengguna magic healer.

 

Sepertinya ia harus bertahan lebih lama dari waktu yang ia prediksi. Berdiri saja ia tak bisa, bagaimana ini selanjutnya?!

Ia tak mau mati konyol hanya gara-gara menyerang tanpa persiapan matang.

   “Apa maumu? Jangan ikut campur..akkk”belum sempat salah satu dari mereka membalasnya. Gerakan seekor kucing yang pada hakikatnya terlalu cepat, malah mendahului gerakan siapapun diantara mereka. Pukulan telak kembali mendarat di wajah.

 

Baekhyun kesal. Kesal pada sikap cerobohnya. Ia seharusnya membawa teman-temannya tadi, atau setidaknya ia memanggil anggota komite keamanan sekolah itu.

 

Satu..dua…tiga…

Kepalan tangannya terasa sakit dan berdenyut terus-terusan. Kakinya yang terbiasa berlari cepat mengejar bola entah kenapa kini tak mau terlalu lama bekerja sama,

   “Kenapa kalian menghajarnya?!”otak Baekhyun masih dapat berpikir cepat. Ia harus mengulur waktu dan mencari celah untuk membawa Chanyeol kabur.

   “Apa kalian tidak takut pada komite keamanan sekolah?!”

Bolamatanya menangkap sebersit gerakan kecil. Anak-anak preman itu kelihatan tak lebih kuat dari si rambut merah, Jung Se Min. Tapi, ia juga tak cukup kuat untuk melawan mereka semua. Ia tak sekuat Chanyeol. Ia bahkan tak bisa menggunakan magic sama sekali,

Andai saja ia mempelajari ilmu beladiri lebih dalam lagi. Mungkin dia bisa menghantam wajah-wajah manusia pengecut didepannya ini,

  “Kau pikir kami ini siapa?”si rambut merah tadi mendecih dan mulai bersikap menantang. Kakinya yang panjang mulai melangkah mendekati Baekhyun yang langsung bersikap siaga, menghalangi siapapun menyentuh Chanyeol.

   “Laki-laki ini adalah Park Chanyeol, anggota tim keamanan sekolah. Apa kalian sudah siap dikeluarkan dari sekolah karena tindakan pengecut kalian ini?”

Ancamannya tak kelihatan berhasil sama sekali. Bukannya takut, orang-orang itu malah tersenyum mengejek padanya.

 

Apa ini? Kenapa mereka tak terlihat takut sama sekali?

Bukankah tim keamanan sekolah adalah jabatan tertinggi diantara para murid?

Kenapa mereka tak takut sama sekali?

   “Baekhyun..pergilah”

Tetapi, saat sosok lelaki bermarga Byun itu hendak menjawab suara Park Chanyeol, sebersit cahaya merah terang yang mengarah tepat kearahnya membuat seorang Byun Baekhyun terlambat bereaksi.

Suara debum keras terdengar saat Baekhyun tertabrak olehnya,

 

   “Baekhyun!” Chanyeol berteriak panik. Sekuat tenaga ia berusaha menghampiri Baekhyun, namun luka parah dikedua kakinya membuatnya tak berkutik. Ia berteriak marah.

Sahabat karibnya itu tersungkur dengan lutut bersimpuh. Cairan merah berbau amis mengalir dari sela jemari tangan Baekhyun yang menutupi wajahnya. “……”

Darah..

  “Baekhyun !”

 

   “Aku…tak bisa melihat apa-apa. Kenapa..kenapa tiba-tiba gelap?”

 

 

—FLOW—

 

 

  Suara derap kaki terdengar jelas sekali di balkon rumah sakit. Gadis berambut hitam itu berlari kecil menerobos tenangnya senja dan mengubah suasana menjadi ricuh seketika. Setidaknya untuk beberapa orang.

Terdengar umpatan beberapa orang yang tak sengaja ia tabrak, gadis bermarga Im itu hanya bisa meminta maaf sembari menundukkan kepalanya.

 

Yoona kini tak peduli dengan siapapun. Kepalanya serasa berputar kencang saat membayangkan seorang Byun Baekhyun bisa terbaring dirumah sakit. Apa yang terjadi?

Kenapa bisa sampai segawat ini?

 

   “Baekhyun..?”

Ia membuka pintu kamar rawat Baekhyun yang tadi dikatakan Chanyeol dengan perlahan. Takut-takut kalau saja lelaki itu sedang tertidur, ia tak boleh sampai membangunkannya.

Tetapi, belum ada selangkah saja ia memasukinya, sebuah suara bernada marah tergema didalam ruangan. Berlanjut dengan suara pecahnya benda yang terjatuh dan pecah.

 

  “PERGI KUBILANG!!”Yoona tersentak. Begitu terkejut dengan apa yang terjadi tepat didepan matanya.

Baekhyun tampak meneriaki Chanyeol. Chanyeol sendiri hanya terdiam bagai patung es ditempatnya berdiri. Mereka tak menyadari kehadirannya.

Yoona meneliti wajah Chanyeol. Ekspresi wajah itu membuat hatinya berdenyut.

Meskipun teriakan itu bukan tertuju pada dirinya, Yoona merasa begitu sakit. Baekhyun yang tak pernah berkata kasar apalagi berteriak telah merubah cara pandangnya yang selama ini terlalu lugu.

Memang. Tak ada yang tak pernah marah. Kesabaran itu ada batasnya.

Tapi, kenapa Chanyeol?… Kenapa Baekhyun sebegitu marahnya pada Chanyeol?

 

Namun, didalam lubuk hatinya yang dalam, gadis itu tak mau mengingkari bahwasannya ia ingin selalu mengerti seorang Byun Baekhyun. Tetapi di satu sisi ia juga tak mau menyakiti perasaan Chanyeol, apalagi sampai membuatnya salah paham tentang apapun itu.

Benak Yoona memandang ini semua sebagai kesalahpahaman.

 

   “Apa kau sudah tuli? Apa kau ingin melihatku semakin marah?!”Baekhyun mencengkram kerah baju lelaki didepannya dengan tangan gemetaran. Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri.

Kemarahannya yang seakan tak berujung ini membuat hatinya semakin sakit, sesakit saat ia dipaksa menerima fakta jika penglihatannya telah benar-benar hilang.

Dunianya yang terang. Dunia dimana ia bisa melihat orang yang paling penting dalam hidupnya, kini semuanya berganti menjadi satu warna tanpa cahaya. Hitam. Semuanya gelap.

   “Maafkan aku..”namun tetap saja, sang lelaki yang sedari tadi diteriaki tak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri. Raut wajah rendah diri tergambar jelas padanya.

 

Tidak.

Sudah cukup. Ini sudah terlalu jauh.

Terlalu lama dirinya berdiam diri, Yoona memutuskan untuk menengahi apapun resikonya nanti. Mungkin saja Baekhyun akan marah besar padanya nanti, seperti yang selalu terjadi apabila Yoona melerai Baekhyun ketika bertengkar dengan Chanyeol,

“Aku sudah tak bisa melihat. Apa lagi yang kau mau? APA KAU TAK PUAS?!”

Apa?

Gadis itu kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya. Kalimat demi kalimat yang terucap itu kembali terngiang ditelinganya, lalu menancap tajam tepat ke dadanya.

Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.

Tanpa sadar, airmatanya mengalir deras.

Baekhyun..

 

Ia masih tak bisa menjauhkan lelaki itu dari bahaya. Janji konyolnya untuk melindungi pemuda itu seakan hancur tergores waktu.

Baekhyun…

Pada faktanya, ia bahkan tak bisa menahan Baekhyun pergi,

   “Baekhyun..”

 

TO BE CONTINUED.

 

<– Previous Chapter

–> Next Chapter

One thought on “[FF] Flow -Chapter 3

Express Your Feelings! With make a comment.. ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s