[FF] What is Love? : Share a Feeling -Chapter 2

what is love

what is love

Title: What is Love? : Share a Feeling -Chapter 2

Genre : Romance, School’s Life

Pairings: ChanYoon (Chanyeol & Yoona)

Cast:

– Im YoonA ‘SNSD’ as Im YoonA

– Park Chanyeol ‘EXO’ as Park Chanyeol

– Other

Lenght: Chaptered

OST:

– Sunye – Maybe

Note:

Oke, kembali lagi dengan saya di ff yang sudah lama sekali pending , JREENG #SoundEffectModeOn😀

Karena saya sedang bersenang hati sekarang, saya nulis fanfic ini lebih panjang dari yang sebelumnya. Semoga bisa diterima!😀😄

Tolong jangan menjadi silent reader disini. Satu komentar yang kamu tuliskan sangat sangat sangat berarti di dalam hidup saya ;-(

See you in next ff!

Still don’t forget to leave a comment ..

Happy Reading!! ^^

~~~~~~oOo~~~~~

 

~~ What is Love?: Share a Feeling ~~

 

Author p.o.v

Hari ini adalah hari yang sangat sangat sial bagi Yoona.

Bagaimana tidak, hari ini dia terlambat bangun pagi.

Dan ini semua dikarenakan dirinya yang tak terima dikatakan ‘pengecut’ sehingga mengharuskannya menemani Chanyeol menonton pertandingan sepakbola semalaman, full time 2×45 menit+15menit sponsor, dia bahkan tak sempat mandi bersih tadi. Rasanya seluruh tubuhnya penuh kotoran sekarang..

Jika saja absen kelasnya masih sedikit, Yoona tak akan mau bersusah payah bangun pagi di kondisinya yang krisis begini.

 

Yoona mendesah malas, saat kakinya hendak melangkah keluar pintu rumahnya, ia baru sadar bahwa kaus kakinya berbeda warna. Uh! Ia sungguh sangat terburu-buru! Kenapa ia menjadi teledor begini? Apa ini karma karena terkena kutukan seorang Park Chanyeol yang kalah bertaruh tadi malam? Pasti!

Kutukan orang yang bahkan lebih muda setahun darinya itu seakan menjadi makanan sehari-hari Yoona saat pemuda itu kesal padanya.

Kau bertanya kesal karena apa? Banyak jawabnya! Banyak alasannya, banyak teorinya! Yoona bahkan tak mau mengingat berapa kali Chanyeol berkata jika dirinya kesal dalam satu hari 24 jam padanya.

Tetapi, saat ia berniat kembali kedalam rumah, bus sekolah berwarna kuning emas melewatinya begitu saja. Bagaikan disambar petir, Yoona sontak membeku ditempatnya. Rasanya ia ingin menangis.

Sudahlah! Ia tak peduli lagi, ia mengejar bus itu sekuat tenaga. Rambut hitam berombaknya yang tak tersisir terlihat semakin tak beraturan. Tak peduli bagaimanapun caranya, dirinya harus bisa naik bus itu atau jika tidak ia pasti terlambat tiba disekolah,

   “Hei! Tolong Berhenti! Berhenti!”

 

~~ What is Love? : Share a Feeling ~~

 

   “Aku duduk disini ya?” Yoona bertanya pada anak laki-laki bermarga Park yang begitu dikenalnya.

Park Chanyeol. Tetangga sekaligus musuh bebuyutannya merangkap sahabatnya itu malah memandanginya dengan mata cueknya, Yoona sudah terlalu terbiasa dengan ekspresi itu.

   “Kau tak boleh duduk disini.”jawabnya singkat dan padat. Membuat Yoona menendang kaki lelaki itu kesal.“Ini bukan bus milik orangtuamu, kenapa kau masih bersikap seenaknya?”sahutnya sebal.

Tetapi bukan seorang Park Chanyeol namanya, jika ia kalah begitu saja dengan seorang perempuan. Yoona dimatanya sekarang ini tak lebih dari sekedar bocah kecil yang melawannya, “Aku hanya bersikap seenaknya karena kau juga bersikap seenaknya!”

   “A-Aku? Kapan aku bersikap seenaknya?!”Chanyeol buru-buru menyumbat lubang telinganya dengan headset miliknya, bermaksud mencegah suara lengkingan Yoona yang bahkan bisa membunuh burung hantu yang sedang tertidur.

Dan itu seakan membuktikan betapa berartinya pengalaman kecil yang Chanyeol dapatkan saat bersama Yoona. Ia bisa menghindari setiap masalah yang ditimbulkan ataupun disebabkan oleh gadis berwajah polos itu. Dan itu juga yang membuat Yoona terkadang merasa sebal padanya.

Chanyeol terlalu mengerti apapun tentang dirinya! Chanyeol bahkan mengetahui apapun yang ingin ia pikirkan bahkan sebelum terucap oleh bibirnya sendiri. Lelaki itu bertindak seakan semua yang Yoona pikirkan telah tertulis jelas didahinya.

Satu poin lagi, Chanyeol selalu bersikap cuek padanya! Ia baik pada semua perempuan, kecuali dirinya. Hanya pada dirinya seorang Park Chanyeol tak mau sedikitpun bersikap gentleman.

   “Park Chanyeol, dengarkan aku!”Yoona berteriak tanpa tahu itu sia-sia. Ia menarik lengan anak laki-laki berwajah sombong itu hingga sang pemilik memandangi dirinya kesal “Apa lagi?”

Gadis itu melepaskan paksa penutup telinga Chanyeol, lalu menatapnya kesal bukan main “Bisakah kau tak bersikap sombong didepanku?! Kenapa kau hanya menunjukkan sikap menyebalkanmu ini padaku?”

   “Hah?”namun, balasan yang keluar dari bibir sang pemuda hanya satu kata itu. Sontak saja, Yoona meneriakinya dengan suara paling tinggi yang ia punya, hanya dia yang kesal.

   “Kau menyebalkan!”

 

   “Yoong! Sini, sini!” sebuah suara riang memecah suasana damai (?) dihati Yoona.

Setelah puas membuat seorang Park Chanyeol terbeku di tempat duduknya, pandangan matanya langsung tertuju pada rekan sejawatnya yang tengah duduk di kursi paling belakang bus.

Kwon Yuri melambaikan tangan pada Yoona, dan hanya Chanyeol yang masih bertahan dengan sikap cueknya itu. Ia bahkan tak mau memandang sedikit pun pada siapa saja yang ada disekelilingnya, Yoona mendesah kesal. Chanyeol memang seperti itu!

Tanpa siapapun tahu apa yang ada dikepalanya, orang-orang hanya memandangnya sebagai seseorang berhati es. Yang bahkan tak seorang pun tahu, jika ia sebenarnya adalah orang yang paling baik diantara mereka. Anak lelaki itu bahkan layak menjadi seorang aktor yang hebat.

 

Diantara sikap bertolak belakang mereka, Chanyeol hanya merasa kesal. Pada dirinya sendiri yang terlalu takut untuk mengucapkan tiga kata memalukan itu. Dan juga pada Yoona, yang tak mau sedikitpun bersikap peka’ pada perhatian yang diberikan padanya.

Ia sering bertanya-tanya..

Apakah selama ini, Yoona hanya menganggapnya sebagai anak seorang supir seperti yang sering dikatakan ayahnya pada saat ia dan Yoona masih bersikap layaknya teman pada normalnya?

Apakah sikap bossy yang dimiliki Yoona itu disebabkan karena gadis itu memandangnya sebagai anak seorang pesuruh dikeluarganya?

Ya. Dirinya memanglah anak seorang supir di rumah mewah milik keluarga Yoona. Chanyeol yang seringkali mengikuti ayahnya ke rumah itu dengan cepat mengerti. Ditengah-tengah keluarga yang tampak bahagia itu, tersembunyi satu orang yang begitu berantakan.

Namanya Im Yoona. Satu-satunya anak yang mempunyai nama keluarga berbeda di rumah besarnya. Ayahnya bermarga Kim, ibunya, juga kakak laki-lakinya.

Saat pertama bertemu, Chanyeol bahkan menganggap Yoona hantu. Alasan yang cukup jelas jika kau melihat seorang anak perempuan kecil bergaun putih sedang duduk bagai patung disebuah ruangan besar bergaya eropa. Tak bergerak dan berbicara. Persis seperti boneka porselin.

 

Yoona saat kecil tak pernah bicara pada siapapun kecuali pada kedua orangtua dan kakak laki-lakinya. Dan saat kedua orangtuanya sibuk dengan urusannya masing-masing, kakaknya yang mulai dewasa juga bersikap seakan meninggalkannya dalam sangkar emas, membuat Yoona berhenti bicara pada siapapun. Apalagi semenjak ia menyandang status ‘anak yatim-piatu’.

Gadis itu pun mengenalnya karena Chanyeol sangat berani bicara tentang segala hal padanya. Chanyeol tak pernah bertanya apapun tentang keluarganya.

Lelaki itu tak pernah mengusik hal-hal pribadinya. Namun, seperti sebuah trauma. Mungkin Yoona yang mulai nyaman bersamanya, malah bersikap posesif seakan-akan Chanyeol hanya miliknya seorang. Awalnya Chanyeol memahaminya, mengingat trauma yang dialami gadis itu.

Tetapi, lambat laun Yoona mulai bersikap bossy.

Gadis itu senang sekali menyuruhnya melakukan ini dan itu, menyalahgunakan posisinya sebagai seorang nona besar dan terus-terusan memaksa Chanyeol berada disisinya sampai sekarang.

 

Terbukti, Yoona sampai sekarang pun masih saja bersikap kekanakkan terhadapnya. Tak berubah sedikit pun, malah semakin dekat dengannya. Sikap dan perlakuan kasar yang ia terapkan pun seperti tak berlaku dalam kamus hidup Yoona.

Tapi, entah sejak kapan dan mengapa, hatinya juga mulai merasa jika ia memiliki gadis yang kini menjadi incaran lelaki dewasa matre yang mengincar warisan. Ia ingin memiliki status tersendiri.

Bukan..hubungan seperti ini yang ia inginkan.

Bukan Yoona yang bisa dengan seenak hati masuk kedalam hidupnya dan memperlakukannya seperti pesuruh. Gadis itu sama sekali tak pernah memandangnya sebagai seorang laki-laki.

 

   “Bagaimana dengan kakakmu?” didalam bus pagi yang tenang, suara dua orang itu bisa terdengar dengan jelas. Dan yang ia bicarakan masih saja kakak laki-laki Yoona itu.

Kwon Yuri dan Im Yoona masih berhubungan seperti duo mata-mata yang mempunyai misi memutuskan hubungan percintaan seorang Kim Jong Myeon dan seorang perempuan bermarga Song yang telah berlangsung lama. Agak lucu memang, tapi kelucuan itu malah kerap menimbulkan rasa sebal dihati Chanyeol,

Apa sih hebatnya laki-laki itu? Chanyeol bahkan merasa ia lebih tinggi darinya. Ia memang tak seramah dia, tapi menurutnya dia lebih tampan dari orang yang digilai Yoona itu.

Chanyeol memang dianugerahi tinggi badan yang berlebihan, setidaknya itu yang dikatakan Yoona. Bahkan julukan ‘tiang listrik’ itu masih saja kadang terucap dari bibir Yoona, bahkan setelah ia berkata bahwa ia tak suka dengan nickname itu.

 

Yoona memang tampak sangat mencintai kakaknya itu, semenjak Yoona menyadari bahwa mempunyai keluarga tak seindah yang selama ini ia bayangkan.

Yoona mempunyai keluarga, tetapi ia hidup seakan ia seorang anak yang memiliki keluarga broken home. Gadis bermarga asli Im yang mudah merasa kesepian. Ia hanya ingin diperhatikan oleh kakaknya.

Setidaknya yah, Chanyeol masih bisa tenang, karena detik ini Yoona tidak mengakui –atau tidak menyadari- cinta anehnya pada Kakaknya itu.

Hanya itu yang ia tahu dari Yoona.

 

 

   “Diluar hujan ya..”

Chanyeol tersentak kaget setengah mati. Ia yang sedari tadi melamun sambil menatap keluar jendela bus, tak menyadari sama sekali jika kini seorang Im Yoona yang kembali memasang wajah lugunya, tengah duduk disampingnya.

Apa gadis itu mendengar sesuatu yang mungkin tak sengaja terucap oleh bibirnya saat ia melamun tadi? Bisa gawat jika memang iya.

   “Jangan usir aku!”Yoona memegangi pegangan bangku yang ia duduki, salah paham pada ekspresi terkejut diwajah Chanyeol sebagai tanda-tanda tak suka didekati olehnya.

   “Aku tak menyuruhmu duduk disini.”buru-buru Chnayeol menangkap tangan Yoona sebelum gadis itu mengganggu lamunannya yang belum terlalu dalam (?). Yoona itu masih seperti mimpi buruk disiang bolongnya.

Tetapi Yoona berusaha melepaskan diri dengan mengibas-ibaskan lengannya. Yang lebih parah, posenya sudah seperti ia akan menggigit tangan lelaki tampan itu kalau tak melepaskan tangannya “Tapi aku mau disini! Aku akan menjerit kalau kau mengusirku!”

Chanyeol mengerutkan keningnya. Orang ini! “Kalau begitu, jangan menggangguku!”

  “Okay”

   “Jangan berisik dan jangan kekanak-kanakkan.”

   “Oke.”

   “Dan Jangan bicarakan tentang kakakmu padaku.”

Kali ini saja Yoona tak menjawab apa-apa. Ekspresinya tampak tak terlalu puas dengan persyaratan yang satu itu. Ia ingin mempermasalahkannya, tapi begitu melihat wajah Chanyeol yang memang tak peduli dengannya, Yoona memilih untuk diam dan menurutinya. “…Oke”

Chanyeol menutupi wajahnya dengan telapak tangan lebar miliknya. Mendesah panjang sebelum memilih untuk menyerah dan mengikuti apa kemauan seorang Im Yoona. Sama seperti yang biasa ia lakukan.

 

Chanyeol tak pernah bisa beradu mulut terlalu lama dengan orang yang satu itu. Entah kenapa dan bagaimana, hatinya yang polos masih tak tega bersikap terlalu kasar pada Yoona. Karena ia sadar, semakin ia berpura-pura tak mencintai gadis kekanak-kanakan itu, ia menjadi semakin gila memikirkannya.

Semakin ia berusaha membuang jauh-jauh bayangannya, semakin sering Yoona muncul dihadapannya dan membuatnya kembali jatuh hati.

Kenapa ? kenapa ia bisa mencintai orang seperti dia?

   “Apa kau marah padaku?”pertanyaan bernada lugu itu kembali terlontarkan tanpa sadar dari bibir Yoona. Meski tak dijawab, Yoona telah terbiasa menjawab sendiri pertanyaan yang selalu dilontarkannya pada seorang Chanyeol.

Lelaki itu terlalu pemalu untuk mengungkapkan segalanya pada orang lain.

Jika dirinya terlalu terbuka, Chanyeol malah bersikap terlalu tertutup. Anak laki-laki yang cenderung bersikap kasar tapi sangat baik menurutnya. Meski kata-katanya setajam tatapan matanya, meski sikap cueknya terkadang menyakitkan, tetapi Yoona yakin. Dirinya sangat yakin…

….jika suatu saat baik Chanyeol ataupun dirinya bisa saling membagi perasaan.

 

TO BE CONTINUED.

 

<– Previous Chapter

–> Next Chapter

One thought on “[FF] What is Love? : Share a Feeling -Chapter 2

Express Your Feelings! With make a comment.. ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s