[FF] Flow -Chapter 2

Flow poster

Flow poster

Title: Flow – Chapter 2

Genre : Romance, School’s Life, Fantasy

Pairings: BaekYoon (Baekhyun & Yoona)

Cast:

– Im YoonA ‘SNSD’ as Im YoonA

– Byun Baekhyun ‘EXO’ as Byun Baekhyun

– Other

Lenght: Chaptered

OST:

– Hebe Tien – Xiao Xing Yun (a little happiness)

Note:

Sepertinya memulai semua kembali dari nol itu susah ya? Buktinya ff ini tak di notice sama sekali. Tapi saya usahain sampai end. ;( #YOSH😀

Ada yang bilang saya adalah ahli spesialis fanfic galau. Benarkah itu? -_-😀

Entahlah. Biar reader yang berpendapat.😀 #YOSH!

See you in next ff!

Still don’t forget to leave a comment ..

Happy Reading!! ^^

~~~~~~oOo~~~~~

 

~~ Flow Chapter 2 ~~

Im Yoona’s VoP

 

Hal yang pertama yang kulihat hari ini adalah Baekhyun.

Orang yang sudah menjadi sahabatku sejak kecil itu melambaikan satu tangannya, sementara satu tangannya lagi sibuk memegang kendali sepedanya. Suaranya yang khas menyambutku begitu aku melewati taman kecil dengan bunga-bunga di sisi kanan-kiri jalan.

Membuatku menoleh dan otomatis menghentikan langkahku,

   “Yo! Morning!” katanya dengan senyum lebar. Dia memperlambat laju sepedanya ketika melihatku susah payah menyamakan langkah kakiku dengan laju ban sepedanya,

 

   “Bagaimana?” tanyanya setelah sekian detik aku tak kunjung membuka pembicaraan. Aku hanya memandangi wajahnya bingung,

   “Hah?”

Tetapi Baekhyun malah meladeni pertanyaanku dengan menundukkan kepalanya. Haha. Aku baru sadar, dia mewarnai rambutnya hingga kini ia menjadi berambut blonde.

Tu-Tunggu! Tapi bukankah peraturan sekolah tidak mengijinkan semua muridnya mewarnai rambut?

   “Ke-Kenapa kamu mewarnai rambutmu?”tak bisa menahan diri. Aku tergagap karena pikiranku kini tertuju pada sederet hukuman yang akan ia terima.

   “Aku keren kan?”

   “Anio!”aku memukul lengannya. Entah apa yang ada dipikirannya, kenapa dia senang sekali membuatku khawatir. Bagaimana nanti kalau dia diskors?

Bagaimana nanti kalau dia di DO dari sekolah? Bagaimana kalau itu terjadi?

Tidak! Aku tidak ingin sampai itu terjadi! Baekhyun tidak boleh sampai dihukum!

   “Apa kau khawatir padaku?”tetapi ia malah bertanya dengan tanpa nada bersalah padaku. Kulihat seulas senyum mengembang di wajahnya, aku tidak mengerti. Akhir-akhir ini dia menjadi lebih aneh dari biasanya.

   “Te-tentu saja! Kenapa kau bertanya lagi?”tukasku cepat dan laki-laki bermarga Byun itu hanya memandangi tanah seraya bergumam sendiri, “Hmm…”

   “Bagaimana nanti kalau kamu dihukum?!”

  “…It’s okay.”

   “Bagaimana nanti kalau kamu diskors?!”

   “It’s okay.”

“Baekhyun!”

   “Apa?”

  “Aku khawatir padamu. Kenapa kamu tak mengerti sih?”seperti biasa, dia hanya tertawa renyah dan mengejekku dengan mulut ringannya.

Tetapi saat dia diam, dirinya menjadi lebih dan lebih menyebalkan ketika menjebakku dengan kata-katanya,

   “Apa kau merasa terbebani karena memikirkanku?”untuk sesaat kepalaku serasa benar-benar membeku. Rasa takut dan kesepian itu membuat darahku berdesir cepat.

Oh Tuhan. Dia benar-benar membuatku merasa kata-kataku menyakiti hatinya, “Bukan-“

   “Apa selama ini-“

   “Ani. Bukan maksudku begitu! aku tidak merasa begitu”potongku cepat.

Baekhyun. Dia tak pernah tahu..

Aku takut. Hanya merasa takut dia merasakan hal yang sama seperti yang pernah dirasakan Chanyeol. Anak laki-laki dengan hewan pendamping naga yang cenderung bersembunyi dibalik topeng senyuman.

 

Aku ingat sekali, bagaimana kesan pertama aku menjabat tangan dinginnya. Bahkan saat pertama kali Baekhyun memperkenalkan Chanyeol, inderaku sudah dapat merasakan apa yang tertulis dihatinya. Entah apa yang membuatku begitu sensitif dengan perasaan gelap orang lain.

Aku pun tidak tahu apakah ini menjadi kelebihan atau kutukan untukku. Mengingat aku adalah orang yang tidak terlalu pintar untuk menghindari konflik atau perdebatan jika misalnya perasaan gelap itu tertuju diriku.

Berbeda dengan siapapun. Baekhyun adalah satu-satunya orang yang -kutahu- tak pernah mempunyai pikiran-pikiran buruk selama 10 tahun -atau lebih- kami berteman. Sejak kecil dia selalu menjadi orang yang paling jujur dan selalu mengungkapkan apapun yang mengganjal hatinya.

   “Jangan mengorbankan diri lagi.”Baekhyun menepuk dahiku dengan sikap biasanya. Senyuman penuh itu seperti terukir permanen diwajahnya,

“Tapi-“

Untuk itulah aku tidak mau jika orang yang paling kupercaya sampai terjerumus ke jalan yang tidak baik. Karena Baekhyun yang selalu optimis adalah satu yang menjadi pendorong semangat hidupku. Karena..

 

   “Aku hanya mengikuti trend boyband-boyband sekarang ini.”selanya cepat tanpa titik koma. Dia menyentuh rambut kuning kebanggaannya masih dengan sikap pede luar biasa. “Dengan begini, aku tidak akan kalah dari popularitas Chanyeol. “

Haah..

Aku menghela nafas lega. Kukira dia meniru anak-anak sekolah yang senang berkumpul di belakang sekolah hanya untuk merokok. Ternyata Chanyeol bisa memberikan efek juga terhadap orang sekeras kepala Baekhyun,

   “Hahaha..”

Sekilas aku mendapati bolamatanya menatapku. Dan detik itu juga dia mendadak terdiam.

 

   “Hei..”tiba tiba saja tangannya yang hangat menyentuh tanganku.

Agak terkejut dengan sikapnya. Aku menarik tanganku dan berjalan agak jauh dari dirinya yang kini berjalan dengan mendorong sepedanya,

Aku hanya diam.

 

   “Can I hold your hand?”ia berbicara setengah berbisik.

   “Kenapa..kita harus pegangan tangan?”tanyaku padanya.

Ia tak langsung menjawab. Melainkan hanya tertawa lebar “Bercanda doang!”

   “Jangan bercanda terus-terusan” Aku mendesah, agak lega entah karena apa.

   “Bagaimana kalau aku menganggapmu serius?! Apa kamu akan menertawakan aku jika sampai kita sampai pegangan tangan?!”

   “Hei, don’t be so angry! Aku mau bertanya padamu, apa sekarang aku bisa mendapatkan pacar?”

Heeeeh?! Kenapa topiknya jadi kesana??

 

—FLOW—

 

Saat jam pelajaran pertama dan kedua telah usai, berganti dengan jam istirahat. Aku malah terpaku di mejaku sendirian.

Helaan nafasku kembali terdengar.

Biasanya saat istirahat, Baekhyun akan kembali dari klub sepakbola yang ia ikuti sembari menyeret si sibuk Chanyeol ke kelasku, hanya untuk mengajak makan siang bersama.

Biasanya suara tawanya dan suara berat Chanyeol akan menghiasi waktu-waktuku.

Biasanya…..aku tidak akan kesepian seperti ini.

 

   “Yoona.” Sebuah suara besar mengejutkan diriku yang sedang terbengong seorang diri.

Chanyeol Park. Sosok tingginya berdiri disampingku. “Apa yang sedang kau lakukan?”tanyanya bingung.

Apa dia melihatku yang sedari tadi bertingkah seperti orang aneh?

   “Aku hanya sedang….”

Dia mengangguk. Seakan paham akan situasi yang kini tengah melandaku, “Baekhyun tidak bisa ikut hari ini. Mau makan berdua?”ia menunjukkan layar ponselnya.

Hah?

   “Ah, tapi-” aku agak ragu menyetujuinya. Setelah kejadian minggu lalu saat aku harus dirawat di rumah sakit, aku memutuskan untuk menjaga jarak dengannya. Tak perlu persetujuan dari siapapun.

Ini bukan kemauanku. Bahkan Chanyeol sendiri berkata jika ia tidak ingin berada bersamaku lebih lama dari sebelum kejadian itu. Dan lagi, aku hanya takut.

  “Tak ada yang perlu kau takutkan. Aku cuma ingin makan dan bicara sesuatu padamu. Ayo.”Chanyeol menarik lenganku sebelum aku sempat mencari alasan untuk kembali menjauhinya.

 

Kami sudah sepakat tidak akan bertemu tanpa Baekhyun.

   “Bukankah kita sudah sepakat?”tetapi dia tampak mendengarku. Sangat sulit melepaskan diri darinya jika sudah tertangkap tangan seperti ini.

Chanyeol benar-benar pemaksa.

 

–FLOW—

 

Terlalu lama kami berdua hanya diam dan menikmati makanan masing-masing. Beberapa kali aku melirik sosok Park Chanyeol yang kini menjadi anggota komite keamanan sekolah, yang sangat terkenal seantero sekolah. Padahal dulu ia bersikeras tak ingin disibukkan dengan urusan orang lain dengan bergabung di komite itu.

Aku tidak tahu dan tidak pernah tahu alasan dibalik perubahan sikapnya beberapa hari ini. Dia kasar, lebih kasar dari sebelumnya. Kata-katanya setajam tatapan matanya, ia seakan tak ingin aku ada didalam jarak pandangnya. Terlebih lagi, ia yang biasanya lebih memprioritaskan hubungan antara aku dan Baekhyun, akhir-akhir ini malah..

Seakan-akan ia membangun dinding yang begitu tinggi.

 

  “Bisakah kita batalkan kesepakatan itu?”Park Chanyeol mendadak melontarkan pertanyaan yang membuatku sedikit terkejut. “A-apa?” tapi, begitu ingatanku kembali kesaat itu, hatiku terasa berdenyut.

 

   “Aku tidak ingin bersamamu lagi. Kau akan terluka dan aku akan terluka. Bisakah kita buat kesepakatan agar kita berjauhan?”

“Kau menangis? Tolong jangan jadi perempuan lemah hanya karena aku berkata kasar padamu.”

“Mulai sekarang berhenti memandangiku dan berhenti memanggilku sebelum aku memanggilmu.”

 

Dia yang memutuskan untuk menjauhiku. Dia yang mengucapkan kata-kata perpisahan di tengah hubungan tak terikat kami. Dia yang menyakitiku. Tapi kenapa?

Kenapa dengan seenaknya dia bisa membangun dan meruntuhkan hati ini?

Aku tidak mau disakiti lagi. Aku sudah cukup mencintainya dari tempat yang tak bisa ia jangkau ataupun ia lihat. Aku tidak perlu berada disisinya hanya karena aku mencintainya. Aku bukan orang yang egois..

Tidak..

 

Namun, bayangan dimana seorang Park Chanyeol mau bersusah payah mencarikan kalung pemberiannya. Bayangan senyumannya yang biasa mengusik hatiku. Aku ingin melihatmu seperti dulu.

Tapi, aku takut. Hanya takut padamu.

   “Tidak mau..”aku menundukkan wajahku. Menahan airmataku yang mulai menggenang agar tidak terlihat olehnya.

“Kenapa? Apa kau sudah tak menginginkanku lagi?”

Aku menggeleng. Suaraku seperti tercekat di kerongkongan. Faktanya saja, aku masih mempunyai perasaan padanya.

   “Lalu kenapa? Apa…kau sudah menemukan orang lain yang lebih baik dariku?”dia menarik tanganku lebih keras setelah aku mencoba menghindar dari sentuhannya.

   “Aku bisa menyukaimu, tanpa harus berada disisimu.”

“Tidak bisa..”

   “Aku bisa jika aku berusaha! Aku bisa menghindari hal-hal yang tak kuinginkan terjadi.”

   “…..apa kau mau bilang jika aku hanya membuatmu selalu dalam bahaya?”

Aku membeku, jantungku berdetak kencang. “LEBIH….dariku?”Chanyeol berkata lebih pelan dengan menekankan setiap kata yang ia ucapkan. “Atau katakan siapa yang kau cintai lebih dariku?!”

   “Chanyeol-“

   “Aku mencoba untuk meyakinkan kau untuk tetap disisiku. Selama ini kita hanya bisa menyandang status berteman, tapi sekarang aku bisa..aku bisa bebas dari segalanya”

 

   “Jadilah kekasihku, jadilah milikku, untuk sekarang dan untuk kita dimasa depan nanti”

 

—FLOW—

 

Setelah jam istirahat berakhir, Baekhyun belum juga kembali dari kegiatan klubnya.

Bangku di belakangku yang biasanya terisi dengan laki-laki nyentrik itu masihlah kosong. Dingin sekali. Serasa ada lemari es yang terbuka dibelakang punggungku, ternyata aku masih belum terbiasa tanpa kehadirannya.

Hahh. Kemana dia?

Padahal aku ingin mendiskusikan tentang Chanyeol padanya. Aku ingin bertanya dan membicarakan segala yang terjadi padaku hari ini padanya. Sungguh. Aku tidak tahu apa yang haris kulakukan setelah aku resmi menjadi kekasih seorang Park Chanyeol.

 

Baekhyun.

Apa dia sedang ada perlombaan?

Tidak. Tadi aku melihat anak-anak dari klub sepakbola sedang makan di kantin. Tidak mungkin hanya Baekhyun yang menghilang.

 

Aku merebahkan kepalaku dimeja.

   “Aku mau bertanya padamu, apa sekarang aku bisa mendapatkan pacar?”

Hahaha. Baekhyun selalu saja jujur.

Jika kuingat-ingat, ia selalu bersamaku, ia pasti kesulitan mendapatkan pacar. Mungkin aku yang membuat dia mengalami masalah.

 

Bruk!

   “Eh?”

Tiba-tiba saja kepalaku tertutupi oleh jas sekolah. Sebuah suara yang begitu kukenal membuatku setengah lega.. Dan setengah kesal,

   “Jahitkan!”katanya setengah tersenyum lebar. Aku hanya memandangi wajahnya dan kemudian beralih pada jas sekolah miliknya yang kini berada digenggamanku.

Ah, kancingnya terlepas satu..

   “Bisakah tunggu sampai pulang sekolah? Sebentar lagi Seonsaengnim akan masuk kelas”

   “Tidak bisa!”

   “Ugh..jangan memaksaku!”

   “Kau punya waktu 5 menit..”ia melirik jam tangannya. Menunjukkannya padaku dan mulai menghitung lambat “4 menit 59 detik.. 4 menit 58 detik..”

   “Iya-iya!”

 

Dan beberapa detik kemudian, Baekhyun menyeret meja didepanku lalu duduk diatasnya. Ia sama sekali tak peduli sama sekali dengan komentar teman-teman sekelas terhadap sikap cueknya.

   “Cuit! Cuit!”

   “Berisik!”sahutnya yang mengundang gelak tawa seisi kelas. Aku sudah terbiasa dengan teman-teman sekelas yang senang ‘menjodoh-jodohkan’ kami berdua.

Baekhyun pun tak mau ambil pusing dan hanya mengatakan ‘just play along with it!’

 

Sesaat agak tenang. Aku merasa dia memperhatikanku. Apa dia takut aku salah menjahit kancing bajunya?

   “Apa yang kamu lihat sih?”tanyaku penasaran. Dia benar-benar aneh kalau sedang diam.

Lalu, jawabannya yang cepat dan enteng membuat hatiku sedikit terkejut.

   “Kamu.”

 

   “Ha?”aku ingin menatapnya. Tapi entah gerangan apa, tangan besarnya memaksa kepalaku menunduk, “He-hei!”protesku.

   “Diam dan dengarkan aku sekali saja. Jangan menatapku dan jangan berkata apapun…”

 

   “….aku ingin kembali saat kita pertama kali jumpa.”

   “Kenapa?”

  “Sudah selesai? Bagus!”ia menghindari pertanyaanku. Buru-buru ia menarik barang miliknya dari tanganku.

Tak mau terlambat, aku menahan tangannya. “Kenapa?”

Namun senyumannya tak kunjung muncul seperti biasa, ia malah melepaskan tanganku,

   “Apa aku berhak memilih wanita yang kusukai selain kamu”

Baekhyun?

“Baek-“

   “Yo, teman-teman! Aku ijin bolos ya??!”sebelum aku sempat memanggilnya, dia sudah berada di daun pintu. Siap melesat pergi layaknya seekor kucing.

   “Tunggu Byun Baekhyun! Jangan membuatku susah! Sebagai ketua kelas, aku-“

   “Bye ketua kelas!”

 

Baekhyun. Baekhyun!

Aku melihat dia berlari melewati lapangan. Dari kelas ini, aku bisa mengenali sosoknya yang berlari cepat keluar gerbang.

 

Baekhyun!

Aku tidak mengerti dengan ini semua. Aku tidak mengerti dengan kata-katamu. Aku tidak paham dengan suasana berat ini. Kenapa kamu pergi begitu saja?

 

Aku tidak mengerti apa maksudmu jika kamu tidak menjelaskan semuanya padaku.

 

  “Ah, Im Yoona..”Park Kyuri. Ketua kelas. Memanggil namaku dari depan kelas seperti yang biasa ia lakukan terhadap semua rekan-rekan kelas ini, “Aku harap kamu bisa mengontrol sikap suamimu itu!”

Brakk. Suara tawa kembali menggelegar dengan fokus utama mereka kembali tertuju hanya kepadaku,

Su-suami istri?

   “A, dia bukan suamiku!”

   “Ya,ya! Kau bisa bilang begitu, tapi tingkah kalian seperti pasangan suami istri.”yang lain malah menimpali setelah aku mati-matian membela diri.

Bagaimana bisa mereka berpendapat begitu?

 

TO BE CONTINUED.

 

<– Previous Chapter

–> Next Chapter

3 thoughts on “[FF] Flow -Chapter 2

Express Your Feelings! With make a comment.. ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s