[FF] Flow -Chapter 1

Flow poster

Flow poster

Title: Flow – Chapter 1

Genre : Romance, School’s Life, Fantasy

Pairings: BaekYoon (Baekhyun & Yoona)

Cast:

– Im YoonA ‘SNSD’ as Im YoonA

– Byun Baekhyun ‘EXO’ as Byun Baekhyun

– Other

Lenght: Chaptered

OST:

– Hebe Tien – Xiao Xing Yun (a little happiness)

Note:

Berlanjut ke chapter 1, semoga cocok! #WASTAJIM #BacaMantra.com😀

See you in next ff!

Still don’t forget to leave a comment ..

Happy Reading!! ^^

~~~~~~oOo~~~~~

 

~~ Flow Chapter 1 ~~

“Ini menjadi seakan-akan aku mempunyai pilihan tetapi aku tetap tak bisa mendapatkannya” – Byun Baekhyun

 

Byun Baekhyun’s VoP

Hidup ini tak lebih dari sekedar perjalanan jauh. Hidup adalah sebuah perjalanan melelahkan yang mau tak mau harus kau jalani.

Tapi, aku bisa mengaturnya sesuka hatiku. Apakah aku harus berlari cepat atau hanya sekedar menikmati setiap langkah yang kujalani. Itulah cara hidupku.

 

Yah, aku tak suka hal yang ribet-ribet. Aku hanya hidup seperti angin berlalu.

Ada saat aku harus memikirkan dan mewaspadai sekelilingku, dan ada saat aku harus membuang semua masalahku dengan tidur dan tidur pulas.

Orang-orang bilang bahwa itu adalah tabiat seorang pemalas, tapi..

Bukankah itu yang namanya hidup seekor anak kucing sepertiku?

 

   “Baekhyun! Yak Byun Baekhyun!”

Tiba-tiba saja seekor merpati mendarat tepat diwajahku. Aku tersentak dan hampir jatuh menggelinding dari atap sekolah yang kini menjadi tempat favorit tidur siangku.

 

Aku mengumpat. Tepat dibawah sana seorang gadis yang begitu kukenal mengacung-acungkan kemoceng yang ada ditangannya kearahku, “Apa sih?! Aku lagi tidur siang tahu!” jeritku frustasi.

Ini sudah yang kesekian kalinya dia mengganggu tidur siangku dengan menggunakan magic sialan itu lagi.

 

Magic summon. Seseorang yang memiliki hewan pendamping dari ras kecil seperti merpati miliknya bisa dengan mudah menggunakannya tanpa menghabiskan banyak tenaga.

Walaupun aku juga memiliki hewan pendamping dari ras kecil, tapi sampai sekarang aku sama sekali tidak bisa melakukannya.

Yah, tak ada gunanya juga sih. Hewan pendampingku cuma kucing brandal berwarna putih yang sampai sekarang pun belum kuresmikan.

 

   “Kalau kerjaanmu cuma tiduran doang, bantuin sini! Yang kena hukuman tadi kan kita berdua!”Ah, benar sekali. Aku baru ingat kalau tadi kami dihukum membersihkan ruangan konseling karena terlambat masuk kelas.

Sebenarnya cuma aku sih yang terlambat.

Tapi ketika tiba digerbang sekolah, dia malah menghampiri guru konseling yang sedang mengomeliku dan berkata kalau dia juga terlambat.

Orang aneh, orang biasa tidak ada yang seaneh dia.

   “Aku sudah mengerjakan bagianku. Tadi kan kita sudah buat perjanjian bersama, aku tidak bisa mengerjakan semuanya..”

Tapi orang biasa juga tidak akan sebaik dia,

 

   “Istirahat dulu ya? Aku kurang tidur tadi malam. Tolong ya tuan putri..” setengah bercanda aku menatapnya memelas.

Sedari dulu Yoona mudah sekali dibohongi. Dia memang baik tapi terkadang kebaikannya sering dimanfaatkan orang lain malah untuk menyakiti dirinya, termasuk aku dan sahabat karibku, Park Chanyeol.

Aku tidak terlalu mengerti dengan cara dia bersikap. Dia memang seperti merpati, indah namun terlalu..

Bodoh..

 

  “Ah” ekspresinya benar saja langsung berubah. Dia mudah sekali dibohongi.

 

   “Kamu kerja shift malam? Y-Yasudah. Biar aku saja yang mengerjakan bagianmu. Jangan kecapekan!”

Dia tersenyum. Sembari menurunkan tangannya yang sedari tadi mengacungkan kemoceng padaku, dia berbalik. Meninggalkanku yang malah merasa aneh.

 

Aku memang kerja paruh waktu di toko Pizza. Tapi itu hanya pada hari Minggu.

Dan… Aku selalu dibantu Chanyeol-yang menggunakan hewan pendampingnya,Naga- untuk mengantar pesanan yang jauh.

Yoona tidak tahu itu. Dia hanya tahu aku kerja paruh waktu, ia tidak tahu jika orang yang disukainya-sekaligus sahabat kami itu- membantuku.

Aku tidak pernah lelah sama sekali, dan Yoona…aku baru sadar kalau dia selalu mengorbankan diri untuk kami berdua. Aku dan Chanyeol.

Saat kami absen –ah, mungkin lebih mendekati- bolos sekolah untuk bermain playstation dan berbohong padanya kalau kami terkena flu berat, dia percaya begitu saja bahkan mau mengerjakan pr kami.

Saat kami berkelahi dengan anak-anak sekolah lain dan hampir mati terbunuh, dia hanya percaya kebohongan kami dan tanpa mengeluh mau merawat luka kami.

Aku…

 

Angin sepoi meniup wajahku. Seakan ia berbisik dan mengatakan semua isi hatiku.

Apa aku keterlaluan ya?

Kenapa aku..merasa jadi sentimental begini?

 

Ah. Menyebalkan..

Aku hanya ingin tidur siang dengan tenang. Pergilah perasaan sialan!

Aku kembali dalam posisi awalku. Berbaring menghadap langit biru dengan bantalan kedua lengan,

 

   “Kau akan jadi pengecut jika terus begini..”si hewan pendampingku, aku memanggilnya Rex, melangkah dan merangkak ke dadaku. Dia menggoyangkan ekornya dan tersenyum bosan.

   “Kau bicara apa?”aku tertawa kecil. Hewan yang hanya bisa terlihat oleh tuannya memangnya sok tahu seperti ini? “Makin hari, omonganmu makin tak jelas..”

Rex hanya tersenyum dengan gigi-giginya terlihat, kata-katanya se-pede ekspresi wajahnya. “Aku berbicara soal permintaanmu yang belum kau buat. Kenapa kau tak memintaku untuk membuatmu jujur saja didepannya?”

  “Tentang apa?” kali ini saja entah kenapa aku merasa aneh. Biasanya aku hanya mengacuhkan omongan tak jelas kucing kecil berbulu putih ini.

Toh ujung-ujungnya dia hanya menanyakan soal satu permintaanku yang belum kuminta padanya, lalu ia akan mengeluh kalau ia tak bisa bebas pergi karena masih terkekang oleh kewajibannya sebagai hewan pendamping, yaitu mengabulkan satu permintaan dari tuannya.

Tapi, sekarang dia malah mengganti topik bujukannya ke Yoona.

 

“Tentang hatimu.”

   “Hah?” Aku terkejut. Sungguh, ini terdengar sangat menggelikan.

   “Mintalah padaku agar kau bisa mengungkapkan isi hatimu padanya. Aku bisa mengabulkannya dengan mudah. Asal itu bukan untuk mengubah hati orang lain”

   “Jangan ngomong sembarangan. Dia sahabatku dan Chanyeol.”

   “Hoho..”

   “Kenapa tertawa? Ini benar-benar tidak lucu!” Kesal, Aku berniat melemparnya, tapi kucing gaib itu malah melayang dan berputar-putar mengitari ku.

“Ayolah tuanku. Anda harus membuat satu permintaan saja. Apa saja. Biarkanlah aku bebas, aku ingin tidur siang tanpa harus dibangunkan…”

   “Aku juga ingin tidur siang juga. Pergilah dan nikmati tidur siangmu!”

   “Tuan. Anda benar-benar keras kepala ya? Hmm.. Begini saja..” Rex berubah asap putih, menghilang sedetik dan muncul mendadak seperti hantu tepat didepan wajahku.

 

Dan saat itu, tepat ketika bola mata onix emasnya menusuk bola mataku dengan tatapannya, dia berkata,

   “Aku datang diwaktu yang tepat, tuan. Aku tidak bisa mengembalikan kebahagiaan yang telah hilang. Jadi mintalah padaku sekarang”

  “Sorry stupid cat, my life is already better without u in my life. Get out from here..”

   “Jangan mengalihkan pembicaraanku dengan bahasa alien itu tuan. Saya sedang serius loh”

   “Apanya yang serius, kucing bodoh! Berhentilah berputar-putar dikepalaku dan menghilanglah!”

   “Anda tidak mau memintanya sekarang? Haaaaahhh….” Rex memutar-mutarkan badannya sendiri di udara. Bosan? Atau malah bersikap gila menurutku, “Aku lelah mengatakan ini tuanku, anda akan menyesal karena tidak bersikap dewasa dan melihat jauh kedepan”

 

   “Hooh… Aku tersanjung” aku mengabaikan kata-katanya.

Ketika Rex sudah berkata-kata tak waras, lebih baik kau mengabaikannya atau kepalamu akan botak karena memikirkan omongannya yang berbelit-belit.

   “Anda memang seperti seekor kucing.” Cerocosnya.

Hei, kau kucing juga..

 

   “Hmmm..sebentar lagi kucing itu akan menangis sih” Rex berbisik pelan sekali, namun angin menerbangkan suaranya hingga terdengar sangat jelas ditelingaku.

Aku melirik sosoknya , namun dia sudah menghilang.

Huh, baru saja aku ingin bertanya apa maksud kata-katanya..

 

Tuh,kan?! Dasar sialan!

Aku masuk dalam jebakannya lagi!

Menangis?

Apaan sih maksudnya?

Huh, kenapa juga dia sok tahu begitu?

 

Dan kenapa aku jadi kepikiran?!

 

—FLOW—

 

Chanyeol melambaikan tangannya dari kejauhan. Senyumnya kelihatan sumringah begitu. Dia hanya kelihatan kalem kalau ada di depan Yoona. Dan didepanku?

Yang dia bicarakan hanyalah masalah-masalah konyol yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Huh! Dasar..

 

Aku hanya berjalan santai kearahnya.

Sekolah sudah sepi. Karena aku ketiduran diatap tadi, jadi aku tidak tahu jam berapa sekarang. Mungkinkah aku dihitung bolos dikelas?

Ah, kenapa Yoona tidak menelponku?

 

   “Yoona sudah pulang duluan?” tanyaku seraya menguap kecil.

   “Hah? Kukira dia bersamamu..”dia malah balik bertanya,

   “Mungkin dia sudah pulang duluan, aneh sekali..”aku menjawab asal-asalan saja. “Menurutmu apa dia tak apa-apa pulang sendirian?”

Park Chanyeol tampak mengernyit. Tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah drastis. Dia buru-buru merogoh sakunya lalu mencoba menelpon seseorang.

   “Tidak dijawab?” Aku penasaran.

Kulihat ada yang tidak beres dengan sahabat karibku ini. Tangannya gemetaran semenjak dia mencoba berkali-kali menghubungi Yoona.

Dia kenapa?

“Bro?”

  “Cari! Cari Yoona!” aku terpaku. Chanyeol sangat jarang bertingkah aneh begini.

Chanyeol adalah sosok gila yang tersembunyi dibalik topeng damai. Kelihatan bodoh, namun sangat kuat. Tapi kenapa..

 

   “APA YANG KAU TUNGGU?!! CARI DISELURUH SEKOLAH!!”

Tapi kenapa dia berubah jadi seperti orang ketakutan begini?

   “Oke, oke. Aku kearah barat, kau-“

Belum selesai aku berkata, dia sudah melesat cepat kearah yang berkebalikan dengan arah yang kutunjuk.

Hei…

What’s up?!!

 

   “PARK CHANYEOL!” Aku meneriakkan namanya saat kulihat sosok naga besar melesat terbang mengikutinya. Itu tandanya Chanyeol serius mengkhawatirkan Yoona.

Agh! Kenapa jadi serius begini sih?!

Sial! Apa Yoona dalam bahaya?

Apa dia di bully lagi??

 

   “Saat aku tidak menjawab telepon darimu, itu berarti aku sedang tidak baik atau aku sedang marah padamu..”

   “Oh? Lalu? Kalau Chanyeol ? Kau akan selalu mengangkatnya kan? Kau benar-benar tidak adil! Jangan karena kau suka padanya-“

   “Baekhyun!”

   “Aww!! Sakit tahu! Gunakan tinjumu untuk hal-hal yang lebih berguna kenapa?!”

   “Aku harus melatih mulutmu untuk menjaga rahasia! “

   “Hooh….. Kenapa? Bukankah bagus jika dia tahu sekalian? Kalian bisa-“

   “T-i-d-a-k! Tolong jangan dibahas lagi!”

 

Sial! Bahkan senyum bodohnya teringat lagi.

 

—FLOW—

 

“Tuanku!” Rex muncul tepat disaat aku selesai menyusuri bagian barat sekolah. Dia hanya memunculkan kepalanya di udara. “Gadis merpati dan naga hijau itu sudah saya temukan.”

   “Bagus! Tunjukkan arahnya padaku!”

   “Ikuti saya”

Aku melesat cepat dan secepat mungkin mengikuti kucing putih itu -yang dengan kekuatan liciknya- terbang bebas seperti burung,

 

Rex berhenti terbang saat bola mataku mendapati dua orang itu sedang sibuk membongkar plastik-plastik sampah seperti pemulung.

Pandanganku langsung tertuju pada sosok gadis berambut ikat kuda yang menjadi penghancur ketenangan hariku, Yoona.

Dia kelihatan kotor sekali. Dan bola matanya…dia menangis?

 

Hah!

Apa ini? Aku lari-lari seperti orang bodoh hanya untuk melihat ini.

Aku ketakutan karena membayangkan gadis rapuh ini menangis dengan tubuh lebam seperti beberapa minggu yang lalu.

 

Aku ketakutan setengah mati karena aku masih saja selemah dulu karena tak bisa melindunginya lagi!

   “Hoi..” Entah kenapa aku marah. Nafasku serasa tercekat di kerongkonganku,

   “Ah, Ba-Baekhyun.” Yoona tergagap melihatku. Dia adalah orang yang paling tahu “Jangan marah dulu, aku-“

“Setidaknya kau menelponku! Jangan seperti orang bodoh dan berkeliaran sendirian! Kau tidak tahu aku seperti orang gila mencarimu!”

Gadis itu tersentak. Wajahnya tampak menyesal, “Mianhae..”

   “Apapun yang kau cari itu pasti tak berguna. Kenapa-“

  “Byun Baekhyun!” suara Chanyeol terdengar. Suaranya yang besar dan berat bagai petir menyambar, memperingatkanku dengan nada dinginnya.

   “Diam dan jangan membuatku marah.”

Aku hanya terdiam. Dia berkata sambil menatapku tajam.

Lututku mendadak lemas. Chanyeol marah? Aku tidak tahu kenapa, tapi…

Tanganku gemetaran.

Apakah ini yang namanya…. Ketakutan?

 

  “Ah, kau tak apa-apa? K-kamu duduk saja ya? Maafkan aku, maaf..”

   “Tak apa.” Aku menyingkirkan tangannya yang mencoba membantuku berdiri. Aku hanya marah pada diriku sendiri dan mulut sial ini.

Aku tak bisa apa-apa selain marah padanya, bahkan sebelum dia menjelaskan apapun, “Apa yang kau cari? Cepat kita temukan, lalu kita pulang..”

Lalu dia tersenyum. Senyumnya yang biasa itu malah membuatku merasa aneh.

Layaknya angin musim semi, dia membuatku merasa lega.

Tapi..aku tak suka perasaan lega ini..

 

“Kalung..kalungku. Kamu tahu kan?” Yoona menjelaskan dengan nada bersemangat. “Tadi pagi waktu aku membuang sampah, sepertinya terikut terbuang.”

Ah, aku baru teringat akan sesuatu. Kalung berbentuk hati -yang kutahu- selalu ia kenakan kemana pun dan kapan pun dia pergi, benda itu…

….adalah pemberian Chanyeol.

 

—FLOW—

 

Chanyeol adalah dewa bagi anak-anak yang mempunyai hewan pendamping bertubuh kecil seperti aku dan Yoona.

Naga. Kedengarannya saja sudah keren. Dan ketika kau bertemu dengannya, kau akan langsung mengetahui auranya.

Yah. Itu sebelum kau melihat tingkah gilanya.

 

Chanyeol selalu melindungi kami dari anak-anak yang mempunyai hewan pendamping yang lebih kuat dari kami. Tak hanya bisa menggunakan magic summon, dia bahkan tak sungkan mengeluarkan kemampuan khusus naganya untuk mennghancurkan anak-anak yang bergaya preman disekolah kami.

Kudengar kakak perempuannya pernah memaksanya masuk sekolah khusus summoner. Makanya dia begitu terampil menggunakan magic.

 

Dan, Yoona. Dia adalah satu-satu orang yang bisa berada diantara aku dan Chanyeol saat ada tanda-tanda keretakan persahabatan kami. Dia menghubungkan tali yang telah putus, jika aku bisa mengungkapkannya dengan kata-kata yang tepat.

Yoona benar-benar menjadi seperti seekor merpati, jika aku melihatnya terlalu lama.

Aku tak bisa bilang dia seratus persen cantik secara fisik, tapi sifatnya yang tulus membuatku tertarik padanya.

Keluarganya juga sangat hangat. Dia terlahir ditengah-tengah keluarga yang benar-benar memahami sifatnya, sehingga membentuk dirinya yang terlalu berpikir positif.

Walaupun dia satu-satunya orang yang terlahir dengan hewan pendamping lemah, Yoona selalu kelihatan mensyukuri hidupnya.

 

Beda sekali denganku.

Kalau Yoona adalah putri sebuah keluarga lengkap, aku malah terlahir sebagai seorang yatim piatu yang bahkan tak diakui oleh sanak keluargaku satu-satunya.

Jika Chanyeol terlahir sebagai seorang tuan muda kaya raya yang sempurna dan kuat, aku bahkan harus bekerja keras untuk membiayai hidupku hari demi hari.

Dan selalu mencari cara untuk menghindari pembully-an yang selalu terjadi diantara para pemilik hewan pendamping.

Miris bukan? Inilah hidup.

 

Ahh, apa aku minta jadi orang kaya saja pada kucing nyentrik itu?

Kalau aku menjadi orang kaya, apa aku akan tetap bisa tenang seperti ini?

Kalau aku punya keluarga yang menyayangiku, apa aku bisa merasa bahagia?

Mungkin saja kan?

 

Aku ini memang bodoh. Aku punya pilihan tapi kenapa tak kupergunakan?!

Sebenarnya apa yang selama ini kunikmati dari hidup yang seperti ini,

Aku berkata pada Rex kalau aku tak ingin membuang kesempatan dengan meminta permintaan yang tidak benar-benar kuinginkan,

Tapi, apa yang benar-benar kuinginkan?

 

Ting!

Aku menatap layar ponselku. Satu pesan…

 

From: Yoona.

Aku ingin membalas kebaikanmu karena telah menemukan kalungku. 🙂

Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau tadi kamu tidak ada. Aku mungkin akan jadi zombie karena kehilangannya.

Jadi, apa yang kamu mau?

 

I don’t know.

Suddenly, my heart is hurt.

Apa yang kuinginkan?

Ini menjadi seakan-akan aku mempunyai pilihan tetapi aku tetap tak bisa mendapatkannya,

 

“Aku mencintai Yoona, tapi aku tak bisa melepasnya kalau saja kami menjalin hubungan. Aku hanya tidak mau sikap egoisku menyiksanya..”

  “Aku mencintainya dengan caraku sendiri. Dengan menahan diri, aku bisa mengendalikan diriku.”

 

To: Yoona

Aku tidak tahu apa maksudmu. Tapi aku akan memintanya saat aku tahu nanti.

 

Ting!

From: Yoona.

Hah?

 

Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku juga tak mau mengingkarinya.

Saat Chanyeol bilang dia mencintai Yoona dengan caranya sendiri, saat itu aku mengikari bahwa aku juga akan mencintainya dengan caraku sendiri.

“Jangan ada sikap egois diantara kita berdua. Sejak kecil Yoona sudah sangat akrab denganmu, dia bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya denganmu dibandingkan denganku.”

   “Apa karena itu, selama ini…kau merasa dia itu milikmu?”

 

Yah. Mungkin benar.

Dia selalu bersamaku, jadi aku tak merasa dia akan meninggalkanku begitu saja.

Setidaknya belum untuk saat ini.

 

Setidaknya sebelum kau mengambilnya dari hidupku, sahabatku.

Karena aku sadar, yang kuinginkan hanya berada di sisinya saja.

 

Disisinya yang mencintaimu.

 

TO BE CONTINUED.

 

<– Previous Chapter

–> Next Chapter

2 thoughts on “[FF] Flow -Chapter 1

Express Your Feelings! With make a comment.. ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s