[FF] I am Stupid.. – Chapter 2

I am Stupid.

I am Stupid.

Title: I am Stupid.. : and it’s because you, girl – Chapter 2

Genre : Romance, School’s Life

Pairings: YoonHae (DongHae & Yoona)

Cast:

– Im YoonA ‘SNSD’ as Im YoonA

– Lee Donghae ‘Super Junior’ as Lee Donghae

– Other

Lenght: Chaptered

OST:

– EXO – Love Me Right

Note:

Annyeong semuanya!! :D

Jumpa lagi dengan author yang tukang PHP -_- #KataOrang.com.

Sekarang, author mencoba mengupdate part 2 ff YoonHae ini. Dipart ini banyak menjelaskan karakter abang Donghae yang pinter, Yoona yang menyandang gelar(?) trouble-maker masih kita jadikan rahasia ya? #SandalLompatkeMukaAuthor😄.

Okay. Daripada saya jadi bahan lemparan sendal. Baiknya, kita langsung terjun ke TKP.😀

See you in next ff!

Still don’t forget to leave a comment ..

Happy Reading!! ^^

~~~~~~oOo~~~~~

~~ I am Stupid.. Chapter 2 ~~

Lee Donghae’s P.o.V

 

Yoona.

Dia memang terkenal sebagai seorang trouble-maker disekolah kami.

Dia selalu membuat masalah, aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya dia lakukan hingga didepan namanya selalu melekat julukan ‘Si Pembuat Masalah’, aku juga tidak mengerti kenapa ia betah dengan julukan negatif itu, mengingat dia selalu menolak nasihat atau kata-kataku untuk kembali kejalan yang benar(?).

   Setiap kali aku mencoba menyadarkannya, ia selalu mempunyai seribu satu cara untuk mengelak atau mengalihkan perhatianku. Dan saat pandanganku teralihkan, ia sudah tak ada ditempatnya berdiri sekian detik yang lalu. Meninggalkan derap kakinya yang bergerak cepat menjauh dariku. Dan teriakan cerianya “Sampai nanti, Donghae-ssi!”.

Menyebalkan. Ia berhasil kabur! Betapa pintarnya dia dalam membohongiku! Dan sayangnya tingkat levelku belum sanggup mengimbangi dirinya-dalam hal melarikan diri-, terlebih lagi dia selalu menggunakan wajah polosnya untuk menipuku. Dasar!

   Yoona. Entah setan apa yang mendiami tubuhnya, aku tak pernah tahu. Yang jelas ia memang terlalu kreatif untuk gadis seumurannya. Hobi membolos, dan tidak pernah diam di satu tempat. Ada saja yang ia lakukan, aku sudah banyak menerima berita tentangnya dari mulut ke mulut. Meskipun Yoona sangat populer di kalangan anak laki-laki karena keceriaan dan wajah cantiknya, tapi di kalangan anak perempuan dia sangat-sangat-sangat di pandang negatif,

Yah. Yoona memang tak pernah ambil pusing dengan pandangan orang terhadapnya. Dia hanya menganggapnya angin lalu, sehingga seakan-akan dia tidak peduli dengan sekelilingnya. Senyum polos itu selalu terpampang diwajahnya, membius siapapun yang melihatnya sekedar untuk mempercayai kata-kata yang terlontar dari bibirnya.

Walau terkadang aku ingin sekali memarahinya karena terlalu dekat dengan siapapun dan seenaknya memasang wajah sok manis pada orang lain, apalagi jika itu anak laki-laki. Aku akui, aku adalah orang yang cemburuan.

   Terkadang aku kesal padanya . Aku tidak bilang jika aku malu menjadi kekasihnya, tapi aku hanya tak suka dengan cara hidupnya, ceroboh dan seenaknya. Sikapku mulai over-protektif padanya. Jika dikatakan, inilah bentuk sayangku padanya. Aku hanya tidak mau orang-orang –terutama para anak perempuan- membicarakan hal-hal negatif terus-terusan tentangnya, aku hanya tidak mau suatu saat hidupnya akan susah karena sikapnya yang sekarang ini,

Yoona sepertinya juga tahu aku kerepotan memikirkan dan mengawasinya. Aku memang sengaja memilih kelas dilantai dua, dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Melalui jendela kaca ini, setidaknya aku tahu ia membolos atau tidak, dengan siapa dia pulang saat aku masih belajar di kelas. Yah itulah awal kekhawatiranku padanya, entah sejak kapan aku mulai over-protektif padanya walau ia tak pernah tahu,

 

   Meskipun Yoona kerap kali berkata kalau aku tidak perlu memikirkannya terlalu banyak, tapi aku tetap saja selalu memperhatikannya, sikapnya membuatku selalu khawatir padanya. Aku menjadi selalu memikirkannya, bertanya –tanya pada diriku sendiri apakah ia baik-baik saja diluar sana karena kami berbeda kelas. Seakan – akan aku harus mengetahui sedang dimana dia dan apa yang sedang ia lakukan,

Yoona. Im YoonA

Aku tidak tahu kenapa tanpa sadar menjadikanmu prioritas utama dalam hidupku…

 

Yoona. Sampai kapan aku dapat benar-benar mengerti dirimu,

 

Kau yang datang di kehidupanku yang tenang. Dari tidur panjangku,

Aku terbangun seakan sejuta petasan meledak di dekatku. Suaranya sangat berisik, mengganggu dan membuatku tidak tenang,

Tapi saat itulah aku menemukanmu. Disaat itulah aku melihatmu. Gadis kalem dengan tatapan sendu yang tampak setengah hati menyeret kopernya memasuki rumah mewah berlantai dua tepat disebelah rumahku.

Rambut hitammu, bola matamu yang seindah rembulan, aku sempat terpesona olehnya.

Tetapi saat itu, saat bola mata hitammu menatapku, aku malah membuang muka. Aku hanya mengacuhkanmu dan berjalan menjauhimu seakan tak ada yang terjadi. Aku tak peduli,

 

Tapi entah kenapa dan bagaimana gadis itu selalu berada dalam jarak pandangku,

Aku selalu bertemu dengannya dimana-mana. Di tempat kerja part-time ku, dijalan, bahkan dia menjadi tetanggaku dan juga teman sekelasku sebelum sekolah kami mengadakan ujian penentuan kelas. Tanpa sadar, aku mulai memperhatikannya. Memperhatikan gerak-geriknya.

Tidak ada yang mencolok. Dia hanya gadis biasa yang tidak istimewa, cantik namun cenderung pasif di kelas. Dia tak suka menjadi pusat perhatian dan cenderung menghindari keramaian,

Aku tak terbiasa. Kau tersenyum dan menyapaku seakan kita telah saling mengenal. Aku hanya mengernyit saat tatapan kita saling bertubrukan dan kau tersenyum. Gadis baik, sikapnya membuatku agak minder, terlihat sekali jika ia berasal dari keluarga yang berstatus sosial tinggi,

Namun jujur. Aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya.

Ini seperti sebuah kutukan untukku, kutukan yang kusadari tak akan bisa hilang dengan begitu mudahnya.

 

   Detik itu dan semenjak itu, Semua terasa bagaikan sebuah mimpi.

Setiap detik yang berlalu saat aku didekatnya, aku semakin menjadi sosok diriku yang tak kukenali, aku sadar itu. Aku telah bercermin beribu kali dan menatap diriku sendiri, bertanya-tanya pada sosok dihadapanku.

Aku terkejut. Dan aku tersadar, aku telah jatuh hati padanya…

Yoona. Kau tahu? Kau telah terlalu dalam memasuki hatiku, aku telah terlampaui terjerat karena mencintaimu, aku tak bisa memungkirinya sedikitpun.

Bahwa aku memang sangat mencintaimu..

 

Tapi…

   Ada tenggang waktu saat aku kehilangan Yoona, Yoona yang kukenal. Yoona yang ramah dengan senyuman dan tutur kata halusnya. Ia mendadak seakan raib dari dunia.

Ia tak hadir saat di sekolah, ia juga tak kelihatan di sekitaran rumahnya. Rumahnya yang megah terlihat kosong, kebun bunganya terbengkalai tak terawat, sosok nya menjadi bayangan halusinasiku setiap kali aku memandang tempat itu saat aku merindukannya..

Satu hari, dua hari, hingga lebih dari seminggu aku tak menemuinya. Aku tetap tak menemukannya,

 

 

Tetapi ketika suatu hari saat hujan deras mengguyur, ketika aku malas berangkat sekolah dan memilih tinggal di rumah, aku menemukannya…lagi.

Gadis itu.

Yoona.

Tengah berlari menembus guyuran air hujan. Tertawa-tawa bersama dengan dua orang perempuan yang memakai seragam yang sama dengan seragam sekolahku. Aku terpaku, dia kelihatan berbeda dari terakhir kali aku melihatnya. Kelihatan… agak nyentrik. Dan Terlalu ceria..

Aku tidak yakin itu benar seorang Im Yoona yang selama ini kurindukan. Namun, wajahnya membenarkan identitasnya. Dia adalah Im Yoona.. yang kucintai.

Aku memperhatikan sosoknya yang semakin menjauh. Lambang F di lengan seragam mereka membuatku tersentak, bukankah Yoona ..

Jadi, dia di kelas F?

 

 

TAKK

Aku memukul bola softball yang dileparkan Kai padaku keras-keras. Kai adalah adik kelasku. Kami sama-sama tergabung dalam klub olahraga. Dia melambaikan tangan padaku saat aku mulai tak fokus dan berteriak menyadarkanku,

   “HYUNG! Fokus, fokus!” dia menggerakkan kedua tangannya membentuk gerakan yang paling aneh yang pernah kulihat. Aku hanya mengernyit tak mengerti,

Demi apa, latihan hari ini semakin membuatku kelihatan seperti orang gila yang terus-terusan uring-uringan. Yang ada di pikiranku hanya gadis menyebalkan bernama Im Yoona yang seharian ini terus berlari menghindariku. Meski kakinya tak sebaik biasanya, ia masih saja secepat kilat saat berlari.

Setelah kejadian kamera kemarin. Dan setelah aku berhasil menyelamatkannya dari guru bimbingan konsling, dia menghindariku? Apa sih maumu Yoong?!

   “Sorry Kai. Aku sedang tidak fokus hari ini” aku berjalan ke bangku panjang yang berjarak 200 meter dari tengah lapangan. Ia hanya menaikkan bahunya, heran dengan sikapku.

Aku menyadarkan tubuhku ke bangku. Mencoba menatap ke atas, burung-burung terbang beriringan di langit biru. Aku memejamkan mata,

Seperti seekor burung..

Yoona. Aku tahu kau ingin terbang bebas, tapi tak bisakah sedetik saja dirimu diam di sisiku?

   “Hyung, bukankah itu Yoona?” Kai melemparkan pelan bola di tangannya kearahku. Bola itu mengenai lenganku dan membuatku tersadar. Aku sontak menoleh padanya, tertarik pada nama perempuan yang ia sebutkan barusan,

   “Yoona? Dimana? ”

Kai mengarahkan pandangannya pada segerombolan anak laki-laki berpakaian aneh berjumlah sekitar 6 orang yang kutahu menamakan diri mereka ‘Grup FFF’, kulihat sedang mengejar-ngejar seorang murid …Tunggu! bukankah itu si ketua osis? Dan Yoona… dia tertawa-tawa seperti orang idiot di balik pohon menonton pemandangan itu.

   Apa lagi ini?

Aku segera bangkit. Bersegera mungkin mendekati Yoona, aku tak mau ia lari lagi,

   “Hei!” dia terkejut, menutup mulutnya dengan tangannya agar tak berteriak kaget. Bola matanya membesar seakan ia tengah melihat hantu,  

   “D-Donghae-ssi..” ia gelagapan(?). Gerak tubuhnya menandakan jika ia bersiap hendak lari, aku menangkap lengannya. “A-aku tidak berbuat kerusuhan lagi!” katanya cepat.

   “Tidak katamu?” aku menatapnya tajam. Menatap seutuhnya pada bola mata hitamnya, mencari bayangan wajahku di bola matanya yang jernih itu, “Lalu, apa yang barusan kulihat…” geramku.

Yoona tersentak. “Itu..itu..” gadis ini mengalihkan pandangannya menghindari tatapanku. Bolamatanya bergerak gelisah, aku tahu ia sedang mencari alasan,

   “Yoong-“

   “Aku hanya berusaha lari..” katanya pelan. Merasa tertekan dengan sikap menginterogasiku, dia menunduk dan jemarinya mengepal, ia meneruskan kata-katanya,

   “Sooyoung bilang orang tua itu sangat mengganggunya, dia bilang orang tua itu terus-terusan mengawasi kami bertiga. Aku mau tahu apa tujuannya, tapi aku tak bisa mendekatinya. Jadi-“

Kepalaku mendingin, “Kau mengerjainya?” gadis ini mengangguk. Otakku berpikir keras, memancing grup FFF berarti Yoona pasti memancing mereka dengan… skandal pacaran dirinya dengan si ketua osis?

Aku menatapnya tak suka. Ia hanya balas menatapku tak mengerti,

I am so jealous, you know!

   “Ada tujuan lain?” aku melipat kedua lenganku di dada, mengatur sikapku. Ia buru-buru mengibas-ngibaskan tangannya, tanda tak membenarkan,

   “Tidak ada!”

Aku tak yakin, “Benar?”

   “Iya…” Aku terdiam. Hatiku sedikit terasa sakit.

Aku takut si ketua osis, Lee Jonghyun, mendekatinya lebih jauh. Bayangan gadis didepanku berada di sisi orang lain membuatku tak kuat berdiri, sendi-sendi kakiku mendadak lemas,

   “Donghae-ssi?” lamunanku buyar. Yoona menatapku khawatir, “Kau sakit? Kau kelihatan pucat..”

Aku sakit karenamu, bodoh! “Aku baik-baik saja..”

Namun, bayangan seorang Lee Jonghyun yang mencintai kekasihku tetap membuatku tak tenang. Aku tahu Yoona memang tak peka sehingga mungkin akan aman, tapi bagaimana jika suatu saat Yoona tahu?

Bagaimana jika Yoona tahu jika alasan laki-laki itu mengawasi mereka karena dirinya? Mungkinkah Yoona bersimpati dan memberinya kesempatan? Gadis ini memang pembuat masalah, tapi aku tahu hatinya sangat baik..

Tidak. Tidak . Yoona bukan tipe perempuan yang akan memberi harapan palsu seperti itu..

Aku mengalihkan pandanganku padanya, mengecek ekspresinya hanya untuk menenangkan hatiku.

Tapi, aku malah terperangkap pada bolamatanya yang menatapku… khawatir.

   “Hei…” aku menepuk keningnya. “Jangan mengkhawatirkan aku.. kau kelihatan jelek dengan ekspresi mu itu! Jangan membuatku kelihatan seperti anak kecil..”

   “Iya…” namun matanya tetap kelihatan khawatir,

   “Sudah kubilang, jangan memandangiku begitu…”

   “Tapi, si kelelawar bilang aku harus lebih memperhatikanmu jika tidak mau dia menghancurkan nilaimu..”

Apa? Dia mengancamku? Tapi kenapa harus melalui Yoona? Apa dia sengaja membuat Yoona tak fokus hanya untuk mengganggu gadis ini?

Tapi, tunggu… laki-laki ber-smirk itu , apa lagi yang ia katakan pada Yoona? Aku tak yakin jika kata-kata yang keluar dari mulutnya sebaik yang Yoona katakan barusan.

Analisisku tidak pernah salah selama ini, dan itu berarti… Laki-laki sialan itu telah menyakiti hati Yoona. Sialan!

   “Yoona, please tell me. What… What did he say to you?

   “Donghae-ssi..”

   “Aku tak bisa memaafkannya. Jika ia berkata-kata kasar pada mu…”

 

 

To be Continued

 

 

10 thoughts on “[FF] I am Stupid.. – Chapter 2

  1. sifat yoona emang msh bikin penasaran.kira2 apa yg membuat dia berubah.ceritanya bnr2 menarik,donghae yg jenius cnta mati ama yoona yg trouble maker n tdk peka.

    Suka

  2. Ciyeeee.. Yoonhae
    Woahh, donghae Daebakk. Dya sayang bgtz sma Yoona
    Aq jdi makin penasaran sma next chachapternyaa,.. Liat Yoona yg smakin anarkis truss donghae kesalahan biar ngatur Yoona
    Moga next partnya buruan d post

    Suka

Express Your Feelings! With make a comment.. ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s